Minggu, 03 Mei 2009

SASTRA(WAN) YANG MALAS, BAPAK GUBERNUR?


(Tanggapan atas penilaian Gubernur Sumbar Gamawan Fauzi di harian Singgalang, Senin, 27 April 2009 halaman B-13 yang berjudul “Sastrawan Sumbar Malas Berkarya”)

1
Oleh: Fatris Mohammad Faiz

Yth. Bapak Gubernur,

Jika Bapak punya hari libur disela-sela jadwal Bapak yang padat mengurusi rakyat, datanglah ke toko-toko buku yang menjual buku-buku sastra, atau bacalah koran Minggu terbitan Jakarta (terutama halaman seni dan sastra), maka Bapak tentu akan memberi penilaian lain. Di antara sederetan buku sastra, Bapak akan menemui sederetan nama yang telah Bapak nilai sebagai sastrawan pemalas itu: Leon Agusta, AA Naavis, Rusli Marzuki Saria, Wisran Hadi, Upita Agustin, Darman Moenir, Haris Efendi Thahar, Khairul Jasmi, Yusrizal KW, Iyut Fitra, Adri Sandra, Agus Hernawan, Sondri BS, Nelson Alwi, Raudal Tanjung Banua, dan masih banyak lagi—yang kesemuanya kita ‘angkat topi’ atas karya dan penghargaan yang diraih dalam dan luar negeri. Atau yang lebih terbaru: Gus tf Sakai, yang lewat karyanya Kemilau Cahaya dan Perempuan Buta, meraih tiga penghargaan bergengsi, yakni SEA Write Award 2004 dari Kerajaan Thailand, Hadiah Sastra Lontar 2001, dan Penghargaan Pusat Bahasa Jakarta. Sedangkan buku Perantau-nya (2007), selain terpilih sebagai karya terbaik 2008 versi Ruang Baca Koran Tempo, juga meraih Khatulistiwa Literary Award 2008, mendahului Andrea Hirata yang Bapak dengung-dengungkan itu.

Lalu, Bapak akan mulai membaca, atau membolak-balik; wacana apa yang diusung Gus tf dan beberapa penulis lainnya (yang belum ‘uzur’), seperti Iyut Fitra, Yetty A.KA, Raudal Tanjung Banua, Farizal Sikumbang, Deddy Arsya, Anda S, Sayyid Madani S, dan nama lainnya dalam buku-buku, rubrik-rubrik sastra yang telah mereka tulis dan hasilkan. Bapak tentu paham bahwa Sumatera Barat tidak hanya sebatas teritorial, dan alamnya tidak hanya indah dalam foto, tetapi sarat akan sejarah dan budaya.

Anugrah Sastra Pena Kencana, penghargaan yang diberikan terhadap karya-karya sastra yang terbit di koran, orang menyebutnya sastra koran, tahun ini juga diraih oleh beberapa penulis Sumatera Barat. Zelfeni Wimra untuk cerita pendek, Romi Zarman, Esha Tegar Putra, dan Deddy Arsya untuk karya puisi. Mereka belumlah 27 tahun, belumlah matang secara politis, Pak. Mereka masih berkutat dengan bangku perkuliahan, bergelut dengan diktat, mereka harus mengerjakan tugas-tugas akademik yang dibebankan pengajar mereka di universitas, tetapi tahukah Bapak kalau mereka ternyata dapat menelurkan puluhan tulisan, bahkan ratusan tulisan dalam usia mereka yang masih muda itu? Sayang sekali, Bapak cepat sekali menilai. Cepat sekali Bapak menilai, Pak…

Bila Bapak berkenan menghabiskan segelas kopi dan duduk di antara lapak-lapak diskusi yang sepi di ujung-ujung kampus, atau di pinggir Taman Budaya sana, Bapak tentu tahu dan sedikit mengerti, apa yang dicita-citakan dan dikerjakan orang-orang yang Bapak sebut sebagai sastrawan itu. Atau jika Bapak datang melongok ke rumahtangga mereka, ke bilik-bilik mereka, Bapak tentu akan lebih paham lagi dan Bapak tentu akan menggigit lidah Bapak sendiri. Bapak akan tahu, betapa banyak para “mujahid” sastra yang menelaah, dan berkarya. Sayangnya, tak ada forum sastra yang mewadahi. Hanya koran (nasional dan daerah), tak ada majalah sastra Sumatera Barat, tak ada forum pertemuan sastrawan sebagai wadah, tak ada, Pak…

Bapak ingin sastrawan Sumatera Barat dapat dan harus menjadi agen wisata, bukan, Pak? Karena Bapak mengambil contoh, sebelum Laskar Pelangi muncul, Belitong tidak begitu dikenal dunia luas. Bapak tentu ingin, sastrawan, lewat karya-karyanya, dapat pula memperkenalkan Sumatera Barat yang elok dan indah ini ke dunia luar. Bapak tentu tidak bermaksud menyamakan sastrawan dengan Uda-uni Sumbar barangkali, atau Minang Talenta yang juga ikut memperkenalkan Sumatera Barat ke luar.

Jika Uda-uni, Minang Talenta, atau yang semacamnya, mendapat perhatian yang besar oleh Bapak, tentu tidaklah akan disesalkan. Minang Talenta, atau Uda-Uni, Tour De Singkarak yang berkaliber internasional yang melibatkan 19 negara, memang semua itu adalah ikon budaya kita, sekaligus agent bagi pengenalan budaya Minang kita yang tinggi ini kepada masyarakat luar. Agar keindahan alam dan keelokan budaya kita ini dapat dikenal pula oleh orang-orang luar negeri. Agar mereka berdatangan bagai kelabang yang diusik api ke negeri kita yang permai ini.

Maka, dalam program untuk memperkenalkan Minangkabau yang permai ini, segala kalangan tentu harus dilibatkan. Sastrawan juga tentu saja. Maka dengan itu, Bapak rela memotivasi sastrawan itu, sebagaimana yang Bapak gembar-gemborkan di media masa, dengan mengeluarkan dana Rp. 5 juta (setelah dipotong pajak 15 %) untuk masing-masing karya. Upaya ini tentu membantu sastrawan, setidaknya untuk biaya penerbitan buku. Tapi mungkin tidak. Buku seperti apa kiranya yang terbit dari Rp. 5 juta (setelah pemotongan pajak 15%) itu? Namun, buku-buku sastra terbit juga di tangan mereka yang Bapak sebut pemalas itu. Dongeng-dongeng Tua (2009) Iyut Fitra, Kampung dalam Diri (2008), Pengantin Subuh (2009) Zelfeni Wimra, dan sejumlah buku sastra lainnya yang masih terkatung-katung mencari dana penerbitan.

Jika harus menilai, Bapak tentu paham bahwa kerja sastra bukanlah kerja hingar-bingar. Ia adalah kerja yang butuh perenungan yang mendalam, keseriusan yang telaten. Karena itu ia bersipat empiris. Ia tidak serta-merta menjadi ‘wah’, dianggap hebat dan menjadi agent daerahnya. Barangkali karena itu juga, ia lepas dari pengamatan Bapak. Ia lupa Tuan prioritaskan, karena ia (sastra) tidak ‘menjual’ dalam penilaian pemerintah hari ini. Bapak, Bapak bukan orang pertama yang menilai (baca:menyepelekan) karya sastrawan Sumatera Barat. Beberapa tahun belakangan Tuan Marlis Rahman—wakil Gubernur Sumatera Barat—juga telah menilai bahwa sastra (dalam hal ini Fakultas Sastra Unand) hanya melahirkan manusia yang kaya teori tapi miskin aplikasi.

Di masa Majapahit, Pak, hiduplah beberapa sastrawan yang dibiayai istana. Tersebutlah seorang empu, Prapanca namanya. Ia seperti keluar dari alur para penulis ketika itu yang memuji dan menjilat istana. Maka dari itu lahirlah Nagarakertagama. Yang menarik bukanlah tentang empu Prapanca, melainkan tentang Majapahit-nya. Kerajaan yang ada di tanah Jawa, yang dikenal memiliki ribuan balatentara yang tak takut mati, yang dalam agenda kerjanya sering melakukan perang, malah memelihara penulis. Kerajaan itu berdiri pada abad ke-13, Tuan. Hayamwuruk, sampai Raden Wijaya, Raja Majapahit itu tahu betul betapa pentingnya penulis, betapa perlunya sastrawan, pencatat sejarah, agar tidak melulu lupa.

Di abad-abad ke-13 hingga ke-18, kerajaan-kerajaan di nusantara punya penulis, punya sejarawan, punya sastrawan. Abdul Qadir Munsyi, Tuan, penulis terkenal itu dipelihara Inggris pada abad ke-19. Begitu pun Majapahit. Dan sudah selayaknya, di singgasana Bapak yang agung itu, memelihara sejumlah pengamat sastra sebagaimana dulu Raffles memelihara Munsyi . Raffles tak keliru menilai masyarakat hingga menguasai Sumatera. Bapak tentu juga paham, belajar sejarah tak semata mengetahui apa yang buruk.

DIAMBIL DARI PADANGEKSPRES MINGGU 3MAI 2009

8 komentar:

pinyu mengatakan...

fotonya bagus..
dapat dari mana?
mungkin satrawan Sumatra Barat juga harus mengadakan semacam acara musik (yang bisa buat bergoyang)..
ha.ha.ha.

puan mengatakan...

Terima kasih sebelumnya pak, marilah sama-sama berbaik sangka kalau bapak kita ini sedang memotivasi kita untuk berkarya lebih baik lagi. Buktinya saat saya memperlihatkan tulisan ini kepada dosen literature saya, beliau langsung berkata..

"Makanya, menulislah agar orang tau kita ada..."

Sekali lagi marilah kita berbaik sangka kalau selama ini kehadiran sastrawan memang belum terlihat, terutama oleh Bpk. Gamawan Fauzi.

I am LOVE mengatakan...

Tambahan, Jika Pak Gubernur dan para pejabat lainnya memang sempat mampi ke blog ini,
Janganlah Melihat Rumput Tetangga Selalu Lebih Hijau dari pada Halaman sendiri.


Untuk Cermin, teruslah menulis, walau banyak yang "ka mamaciak kaki katiko wak ka maju, tapi jiko wak tatingga pasti labiah banyak nan ka galak"!

How I Lost Thirty Pounds in Thirty Days mengatakan...

Hi, good post. I have been wondering about this issue,so thanks for posting. I will certainly be coming back to your blog.

ChaUd mengatakan...

ketika langkah tak lagi serasi dalam melangkah, ku ingin berhenti sejenak dan bercermin.
keep talkin' well and doin' great!!!

ai kartika mengatakan...

nice photo !!!!!

irvan mengatakan...

jan didanga an bana gamawan tu.. yg pokok dek inyo pitih masuak jo kekuasaan tu mah..

Elsya Crownia mengatakan...

tetaplah berkarya, yang jelas para sastrawan dan penulis disumatera barat akan terus lahir.

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung. Bila anda ingin menanggapi posting ini, silahkan tuliskan komentar anda di sini.

Bagi rekan-rekan mahasiswa fakultas sastra Unand yang berminat mempublikasikan tulisannya di Blog Cermin Comunity, silahkan kirimkan naskah rekan-rekan ke cermincommunity@plasa.com
atau cermin_community@yahoo.com

Salam Hangat.