Selasa, 03 Februari 2009

Puisi dan Rumah yang Kau Bikin, Ngku!

Kepada Taufik Ismail


taufik-2dismail

foto:Abdullahkhusairi

Di hari-hari ketika orang banyak berteriak tentang kebenaran di jalan-jalan kota, di lorong-lorong sempit perumahan, hingga gubuk-gubuk tak terurus yang ditempeli gambar-gambar politikus, kita merasa hari-hari kita membutuhkan puisi, juga sastra.

Di Padangekspres Minggu, Fadlillah mengusulkan akan adanya sebuah pertemuan sastrawan di minangkabau karena sastra dan budaya telah kian dimarjinalkan. Ia telah dikesampingkan. Ia telah di nomor 16-kan setelah ilmu sains.

Tapi Taufik Ismail telah memulai beberapa waktu lalu. Memulai dengan sebuah gebrakan baru: rumah puisi. Di Aia Angek sana. Sebuah tempat dimana puisi didokumentasikan. Di rumah itu kelak, atau mungkin telah, disimpan dokumentasi puisi yang tiap hari berhamburan datang. Setidaknya, menilik usulan Fadhlillah tadi, satra dan budaya tidak akan termarjinalkan. Tidak akan dinomor 16 kan.

Tapi saya mulai ragu. Rumah puisi yang terletak di…yang diapit gunung dan lembah itu seperti penjara puisi. Puisi dirumahkan, ia tak lagi hidup ditengah masyarakatnya. Puisi akan marjinal dari masyarakatnya. Puisi menyublim di carut marut kota.

Taufik yang datang sebagai angkatan 66, tentu tahu, bahwa puisi tak memiliki rumah. Melainkan sebaliknya, puisilah yang membangun rumah-rumah. Ada sepotong sajak Cairil yang berkupasan masalah saja:

Rumahku dari unggun timbun sajak// kaca jernih dari luar segala nampak//kulari dari gedung lebar halaman/aku tersesat tak dapat jalan…

Kembali ke Taufik (baca:Engku Taupik)...
Mungkin karena yang berbicara adalah Taufik, maka sejenak ia didengarkan. Karena pada saat yang sejenak itu juga adalah saat ketika sastra menjadi santapan politik. Orang-orang angkat bicara tentang sastra di waktu yang sejenak itu demi untuk menunjukkan bahwa mereka, sebagai pajabat Negara peduli terhadap sastra. Saya juga baca sastra lho! Sastra sejenak menjadi kuda dengan mata tertutup. Silahkan tuan-tuan pejabat naik, menungganginya hanya untuk disebut sebagai pejabat yang peduli pada kesusastraan. Jika taufik angkat bicara, pejabat-pejabat teras daerah silahkan turut angkat bicara. Katakan, puisi taufik sejajar dengan alquran, katakan setelah membaca puisi taufik saya menjadi merinding. Wahaha… pejabat institut atau universitas yang sekalipun tak membaca sastra, silahkan angkat bicara. Wali-wali kota-kota, ca-leg-ca-leg silahkan baca puisi. Ini saat Anda memampang wajah bahwa anda peduli. Lalu setelah itu, lupakan sastra kembali.

Rumah Puisi, kelak tentu akan memberi kehangatan baru buat kesusasteraan di Minangkabau ini. Tapi adakah sebuah rumah kelak akan memingit sosok yang berada di dalamnya (puisi)? Apakah ketika puisi dirumahkan, ia tak lagi bebas menyublim bersama orang-orang yang tinggal di risau cuaca kota, juga dinginnya perkampungan? Engku Taufik harus menjawab hal ini, Ngku! Engku yang "datang-kembali" ke ranah Minang di usia senja tentu bukan hanya sekedar pulang kampung sebagaimana yang terjadi tiap hari raya. Tentu bukan sekedar melakukan ceramah-ceramah di sana sini, dengan walikota itu dan ini. Berkoar-koar berkata sampai berbusah,"masy...arrakat kita rabun membaca, pincang menulisss!!". lalu duduk dengan orang tetua-tetua dan berbincang tentang generasi sekrang yang manja:"wah..kalau saat kami dulu..wuihh...jangan dikata, ah..tak bisa disebutkan lagi. ah..uh..ih.." mengenang...

ada sepotong sajak Chairil, Ngku:
kau datang terlampau senja/ kisahmu bagiku hanya kenangan

Demikian, Ngku!!

Salam
F.M.Faiz



2 komentar:

Hadi M Zaf mengatakan...

wahahahah...

aku tak tahu kalau politik juga bisa menunggangi seni/ sastra atau mungkin sebaliknya... yang jelas beliau sudah sangat sepuh...

pertanyaan yang paling pas sebenarnya adalah; kenapa membangun istana bernama rumah? bukankah seharusnya Engku membangun sekolah untuk membina generasi muda yang Engku anggap cacat itu??

wawasanislam mengatakan...

semoga modernisme(internet?) menjadikan kita lebih berpikir.

selamat berdiskusi.

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung. Bila anda ingin menanggapi posting ini, silahkan tuliskan komentar anda di sini.

Bagi rekan-rekan mahasiswa fakultas sastra Unand yang berminat mempublikasikan tulisannya di Blog Cermin Comunity, silahkan kirimkan naskah rekan-rekan ke cermincommunity@plasa.com
atau cermin_community@yahoo.com

Salam Hangat.