Sabtu, 08 Agustus 2009

"Serambi Rumahku"

Sinar pagi menyapa dedaunan
Rerumputan menjalar merangkak
Tersandung di kerasnya pembatas
Dibalik pasir menggunung

Angin merambat, menyentuh setiap daun pada batang
Senada nyanyian alam yang berkicau menyahut matahari
Sehabis bulan menampakan diri
Ditengah dingin menyelimuti padang

Serambi rumahku kembali menyapa
Penat sesak hilang
Bersatu bersama harmoni alam
Membangunkan setiap asa.



_Tomi_

6 komentar:

pinyu mengatakan...

membca puisi ini hanya membawa saya untuk hadir pada sebuah suasana, pada sebuah lokasi.
kawan saya bilang puisi itu bisa juga kehilangan nyawa, sampai hari ini saya masih tak tau dan tak mengerti akan hal itu.
hanya satu mungkin, tak bernyawa berarti mati.

rian mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.
Anonim mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.
Cermin Community mengatakan...

jadi, defenisi dari 'puisi yang mati' itu seperti apa?

tuteh mengatakan...

puisinya keren....

Cermin Community mengatakan...

@tuteh:
terimakasih.
salam kenal ya, tuteh :)

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung. Bila anda ingin menanggapi posting ini, silahkan tuliskan komentar anda di sini.

Bagi rekan-rekan mahasiswa fakultas sastra Unand yang berminat mempublikasikan tulisannya di Blog Cermin Comunity, silahkan kirimkan naskah rekan-rekan ke cermincommunity@plasa.com
atau cermin_community@yahoo.com

Salam Hangat.