Rabu, 25 Februari 2009

Kreatifitas Yang Salah Tempat

Iklan adalah sebuah keistimewaan. Sebuah kata benda yang sangat berharga. Melalui iklan, apapun bisa dijual. Benda, jasa bahkan manusia. Dalam tanda kutip, menjual profil seseorang untuk tujuan dan maksud tertentu. Iklan terbagi dalam iklan cetak, iklan radio dan iklan televisi. Saat sekarang ini, iklan yang paling mudah menarik konsumen adalah iklan televisi. Tanpa mengesampingkan iklan cetak maupun iklan radio, iklan televisi lebih tepat sasaran dan efektif. Semua itu karena keunggulan audio visual yang dimiliki oleh televisi. Berbeda dengan iklan cetak yang hanya mengandalkan visual, dalam arti kata gambar dan tulisan, dan iklan radio yang hanya mengandalkan stimulus audio, iklan televisi mengedepankan keuntungan adanya stimulus visual yang diperkuat oleh stimulus audio.

Iklan-iklan televisi saat ini semakin semarak dengan munculnya ide-ide baru yang segar dan fresh. Tidak hanya berkutat dalam permainan gambar ataupun bintang iklan yang cantik dan ganteng, tetapi juga menggunakan pilihan dan susunan kata yang terkadang menggelitik dan memancing keingintahuan penonton sehingga mereka terkadang menyengajakan menunggu iklan tersebut hanya untuk menikmati kreatifitas si pembuat iklan.

Banyak sekali iklan televisi yang sekarang tidak hanya sekedar memajang wajah-wajah cantik dan ganteng. Terkadang sebuah iklan yang menarik hanyalah terdiri dari beberapa kalimat narasi dan gambar background, tetapi rasanya sayang sekali untuk dilewatkan setiap kali penayangannya karena memang tampilannya menarik. Beberapa kategori iklan yang menarik seringnya muncul di iklan rokok, minuman, kartu seluler atau iklan produk bayi. Terutama pada iklan rokok, terlihat sekali bahwa pihak produsen dan distributor rokok benar-benar habis-habisan untuk menarik minat konsumen dengan mengedepankan stimulus konsumtif melalui iklan yang menarik dengan ide-ide yang tidak hanya segar, bahkan gila. Hal tersebut sangat potensial menarik penonton untuk mengikuti jalan cerita yang ditawarkan dan bukan tidak mungkin menjadi konsumen produk rokok bersangkutan setelah menonton iklan tersebut.

Merek rokok yang diakui cemerlang dalam menampilkan ide iklan yang gila dan fresh diantaranya A Mild, Sampoerna Hijau dan LA Lights. Ada-ada saja ide baru yang ditampilkan disetiap iklan yang ditampilkan, dan tidak hanya monoton dengan satu iklan saja, melainkan hingga dibuat beberapa tema dan jenis iklan yang berbeda dengan tujuan sama. Tidak bisa dibantah bahwa iklan-iklan tadi benar-benar menarik keingintahuan penonton untuk mengikuti jalan ceritanya. Dengan paduan kata-kata unik yang dibalut unsur komedi, susah rasanya untuk mengganti channel sebelum iklan tersebut habis. Sebut saja iklan Sampoerna Hijau dalam berbagai versi. Versi bedug, versi lebaran, dll. Kekonyolan yang ditampilkan mematahkan definisi awam iklan, yaitu memindahkan channel siaran televisi ketika tayangan sudah berganti ke iklan.

Satu hal yang sangat saya sayangkan hanyalah proporsi eksplorasi ide-ide tadi. Mengapa ide-ide gila tadi lepas ke bentuk iklan produk yang seharusnya tidak terekspos sebesar itu. Rokok adalah racun. Tidak hanya membunuh konsumennya, bahkan dua kali lebih berbahaya bagi non konsumen. Sehingga teman saya pernah melontarkan joke ketika saya memprotes dia saat merokok; “kalo kamu memang nggak mau mati cepat gara-gara asap rokok saya, sekalian aja kamu ngerokok. Toh perokok pasif justru dua kali lebih besar resikonya terkena kanker.” Weleh, mau marah tapi yang dia bilang itu masuk akal sekali. Saya malah jadi ketawa nggak jelas.

sumber gambar

Kemunculan iklan-iklan rokok yang kreatif memang membawa perubahan besar dalam penjualan produk. Grafik selling meningkat dan iklan-iklan pun semakin kreatif, membawa keuntungan yang semakin besar pula bagi produsen. Saya sangat menyadari sekali besarnya perubahan yang ditimbulkan oleh kegilaan dan kekonyolan yang ditampilkan. Beberapa teman saya yang “jadi korban” pun berpindah hati dengan mencoba mengkonsumsi merek rokok yang ide iklannya kreatif. Sedemikian besarnya pengaruh iklan yang menarik terhadap masyarakat. Pertanyaannya adalah, mengapa justru ide-ide kreatif tersebut tidak ada sumbangsihnya terhadap sesuatu yang jauh lebih berguna bagi perkembangan masyarakat? Contoh : iklan layanan masyarakat.

Iklan layanan masyarakat yang saya kenal dan lihat selama ini jauh dari kesan kreatif dan menarik. Bahkan membosankan, katro dan membikin tangan gatal untuk segera meraih remote dan memindahkan channel. Padahal iklan layanan masyarakatlah yang seharusnya diikuti. Karena iklan ini menyampaikan pesan moral yang besar sekaligus pesan-pesan pemerintah yang seharusnya diketahui oleh masyarakat. Tetapi justru pesan tersebut tidak sampai karena masyarakat tidak tertarik untuk mengikuti jalan cerita iklan tersebut. Bagaimana bisa menangkap sebuah maksud tersembunyi jika pesan terbuka saja tidak terdeteksi?

Kembali lagi ke masalah krusial dunia sejak filosofis Marksisme ada. Hal pokok yang ditentang habis-habisan oleh Karl Marx. Kapitalisme. Satu kata sederhana yang racunnya menjalar kesetiap saluran nadi kehidupan. Permasalahan penempatan kreatifitas yang tidak pada tempatnya inipun kembali lagi ke masalah klasik, kapitalisme. Apapun dihargai dengan uang, bahkan harga diri seseorang. Jika akhirnya ide-ide segar tadi mengalir ke bentuk yang tidak seharusnya dipromosikan jor-joran, tidak lain tidak bukan disebabkan oleh faktor ekonomi. Buat apa produsen atau pencetak ide menelurkan ide brillian yang bisa dihargai puluhan hingga ratusan juta rupiah untuk sebuah iklan penanggulangan masalah DBD yang sifatnya sukarela? Akan baik sekali jika pihak televisi menayangkan iklan “Bukan Basa Basi” yang kontraknya mencapai miliaran rupiah, daripada menayangkan iklan “3 M; Menguras, Membakar dan Menimbun”. Faktor produksi dan keuntungan sangat bermain disini. Produsen tidak ingin merugi bukan?

Jadi sangat masuk akal sekali jika masyarakat Indonesia masih saja “bodoh” dan gampang dibodohi. Karena sikap kritis yang dimiliki oleh generasi muda sekarang ini sudah banyak yang salah kaprah dan salah tempat. Sungguh akan sangat pintar sekali generasi masa depan jika penempatan kreatifitas, apapun bentuknya, diletakkan secara tepat dan berimbang. Tidak hanya untuk kebutuhan konsumtif, tetapi juga untuk peningkatan kecerdasan dan awareness masyarakat Indonesia terhadap berbagai isu dan pesan yang yang disampaikan oleh pemerintah.

*Mira Utami

Senin, 16 Februari 2009

Sajak Arif

*tak berjudul*

teman yang kejam
engkau slalu menemani hari-hari ku
slalu mengisi hidup ku
kau temani aku disaat senang,sedih,tertawa,menangis,kaya,miskin
bangun tidur,engkau yang ku cari,
mau tidur pun kau yang ku cari
bahkan aku mau berakpun kau temani
oh sungguh setianya kau
tapi sayangnya kau hanya bisa menghancurkan ku
perlahan namun pasti,kau hanya bisa mbuat ku sakit
teman kah kau namanya itu?
untung sekarang MUI tlah mnyalakan lampu merah pada mu
hanya waktu yang kan menghabisi mu


-Arif-

HOMESICK

Bergantian wajah-wajah yang begitu lekat dihatiku, menyapa dan memanggil..manja?? O tidak! Aku bahkan samasekali bukan seseorang yang senantiasa dipanggil dengan embel-embel “…sayang”! Tapi aku…ya begitulah adanya hidupku! Tapi lagi niihh,, mereka sayaaang banget sama aku dan aku sayaaang banget sama mereka. That’s enough..bahkan kata itupun takkan lagi mampu mewakili perasaan yang ada dan tercipta begitu erat..aku tau, dan semuanya lebih dari apapun! Aku tak pernah merindukan tempat untuk pulang dan bersandar selain rinduku kepada mereka. Selain inginku untuk selalu berkumpul bersama-sama keluargaku tercinta…selain berada disini, dirumahku…
Aku mendengar dari dalam kamar,, Bunda sedang memasak pagi itu, di dapur yang lumayan sumpek dan sederhana banget. Aku tau, sebaiknya sekarang bangun dan bantuin, tapi entah kenapa kepalaku rasanya berat sekali. Tiga kali sudah aku mencoba bangkit, tapi akhirnya tergolek lagi.
“ ya Rabbi, aku ga’ mau jadi pemalas”, rintihku . Sedikit oleng saat aku berdiri dan mencari pegangan di dinding triplek yang juga ikut bergoyang ketika kujadikan sandaran,, kepayahan yang begitu benci untuk kuakui.
“ kenapa? sakit kepala lagi?!”, Bunda melirikku yang berdiri di pintu dapur. “ entah sakit kepala apa namanya itu, ndak sembuh-sembuh!” Kuabaikan omelan Bunda. Baru saja aku mau melangkah, namun tiba-tiba.. daun pintu tempatku bersandar ambruk seketika dan semua bergoyang, terjadi dalam waktu yang begitu cepat..tanpa aku sempat berbuat apa-apa..
Aku terbangun dalam gugu tertahan, hatiku menciut, jiwaku resah..aku demam tinggi. Tak ada siapa-siapa disampingku. Kos-an lengang, teman-teman pada pulang kampung dan dikamar sepi ini,, aku sendiri. Aku menangis dalam diam…


***

Aku melayang entah dimana, dan semua terasa begitu ringan. Pikiranku, sakit kepalaku-pun tiba-tiba hilang. Aku melangkah pelan-pelan, tapi tetap saja tanpa teman, sendiri dan sunyi…
Aku sedang menuruni beberapa anak tangga, bewarna putih dan mengkilat, rasanya licin sekali. Antara ragu dan ingin, aku terus menuruni anak tangga itu, hingga hampir berakhir. Aku tau aku pasti bisa, hingga didua anak tangga terbawah, aku tersenyum untuk itu. Namun baru saja aku menginjakkan kaki dianak tangga terakhir, semuanya tiba-tiba bergoyang, anak tangga itu benar-benar licin, aku terpeleset..terjadi begitu saja, sangat cepat dan aku tak sempat untuk berbuat apa-apa.

***

Aku kembali terbangun dalam gugu tertahan, nafasku sesak dan semua serasa diputar ulang dihadapanku. Mimpi mengerikan itu datang dan terus datang. Aku selalu saja jatuh dan terjatuh tanpa bisa berbuat apa-apa.
Disini masih lengang,,,
Aku berkurung dikamar yang sepi, tak ingin bertemu siapa-siapa dan tak ingin bicara apa-apa. Aku benar-benar ingin menyatukan sepi ini dengan kesepian yang nyata.
Kos-ku masih lengang,,,
Aku tergolek lemah diatas tempat tidur, jauh dari nyaman. Kepalaku berdenyut, sakit yang tak tertahan dan tetap tak meringan jua. Pikirku mengembara kemana-mana…

***

Seorang gadis kecil dan kurus sedang bermain-main dengan teman-temannya, di sebuah perkampungan, dikelilingi lereng- lereng bukit, begitu asri dan indah… wajah mungil-terbungkus rambut lurus sebahu dan poni sebatas alis- itu cenderung diam dan menyendiri, dia lebih senang memperhatikan sekitarnya.
Bayangannya kini berganti dengan gadis berambut lurus tipis sepinggang. Dia sedang berkutat dengan buku-buku bacaan dan tugas sekolahnya. Duduk ditengah padang rumput luas tempat kerbau-kerbau gembalaan merumput. Suasana yang tenang dan menenangkan. 5 tahun belakangan ini , dia selalu mengantongi juara I di SD tempat ia bersekolah. Beberapa orang kakak kelas berusaha merebut hatinya..”ah, cinta monyet yang benar-benar lumrah dan naif”..
Kini, gadis itu mulai remaja dan hm,, dia berkerudung dengan seragam putih biru yang panjang. Punya kebiasaan membawa-bawa diary dan senang menulis puisi. Bahkan diberi tanggung jawab untuk mengelola mading sekolahnya. Ia masih tetap mengantongi juara I-nya, meski kini banyak yang memandang iri padanya. Sudah hukum alam!! ”kesuksesan kita tak selamanya kebanggaan orang lain”, hibur seorang guru yang penuh perhatian. Gadis itu selalu tersenyum riang, akrab dengan guru-guru dan… yach, diincar oleh gank cowok- cowok keren di sekolahnya. Namun gadis itu bersahaja dengan kesendiriannya, meski kini tak lagi pemalu, tapi soal hati dia lebih cendrung tertutup..
Gadis itu sekarang lebih sering luruh disajadah dingin dan beku, disetiap penghujung shalatnya. Sepinya, sendirinya, pemikirannya hanya Dia yang tau, hanya Dia yang mengerti, karena gadis itu tak sanggup berucap apa-apa, diam dalam derai tangis dan tawanya..
Pun dalam diam,, dia tergugu diam-diam,menggigil diam-diam…tak ada yang tau kalau senyumnya palsu, kalau tawanya sandiwara, tak ada!! karena dia tak ingin, dia tak bisa…dia tak ingin disanjung karena dia takut menjadi sombong karenanya, dia tak ingin direndahkan karena dia bertahan untuk dirinya sendiri dengan kesendiriannya…
Buatnya, getir tak musti diobral,,,dukanya tak musti disebar,,,karena dia hanya ingin dimengerti bukan dikasihani…




"Chatrine"