Rabu, 06 Mei 2009
"Subuh"
Ku asingkan diri di kelam redup subuh
Tersandar dalam bara merah warna
Hunuskan pedang berdarah hati
Hingga saat jumpa
Lelap ku pejamkan rasa
Awan berarak menjauhi masa
Lupa akan langit yang berbintang
Diiring sepoi asa berhembus
Coba kau resapi makna hidup
Jauh dari akal dan sadar
Cukupkan hati
Tersadar akan langit yang mulai gelap
Tumpuan putaran tak lagi kuat
Hilang kendali alam
Jujur aku mengatakan
Bahwa ini adalah waktu yang telah berhenti
Kupas dalam waktu yang berlalu
Irisi kulit tipis menyayat
Jejak itu akan terlihat
Hilang hati hilanglah bumi.
-Tomi-
Minggu, 03 Mei 2009
SASTRA(WAN) YANG MALAS, BAPAK GUBERNUR?
(Tanggapan atas penilaian Gubernur Sumbar Gamawan Fauzi di harian Singgalang, Senin, 27 April 2009 halaman B-13 yang berjudul “Sastrawan Sumbar Malas Berkarya”)
Oleh: Fatris Mohammad Faiz
Yth. Bapak Gubernur,
Jika Bapak punya hari libur disela-sela jadwal Bapak yang padat mengurusi rakyat, datanglah ke toko-toko buku yang menjual buku-buku sastra, atau bacalah koran Minggu terbitan Jakarta (terutama halaman seni dan sastra), maka Bapak tentu akan memberi penilaian lain. Di antara sederetan buku sastra, Bapak akan menemui sederetan nama yang telah Bapak nilai sebagai sastrawan pemalas itu:
Pelatihan Kesusasteraan di Sastra Inggris Unand
Mereka yang berangkat ke alam terbuka bukan untuk berwisata, adalah mereka yang mencari tempat lain untuk belajar, berpikir dan berkarya. Sebuah tempat yang tak ditumbuhi gedung-gedung dingin, yang tak ada whiteboard, tak ada khutbah, tak ada nilai-nilai yang kaku.
Sesaat, tubuh-tubuh mereka mengeliat seperti ada yang memberontak dari dalam, dari sesuatu yang bukan tubuh. Wajah mereka berubah-ubah dari sedih hingga muram dan masam. Kemudian mereka menulis tentang sesuatu yang entah, sesuatu yang mungkin saja belum pernah ada, sesuatu yang barangkali belum terlihat oleh mata, sesuatu yang mungkin telah berulang kali dilakukan sehari-hari, atau sesuatu yang mungkin telah hilang dari dalam diri sendiri. Tapi bukan sesuatu yang nihil.
Literary Basic Training III yang diadakan Jurusan Sastra Inggris Universitas Andalas dari tanggal 24-26 April 2008 di Asam Pulau kecamatan 2X11 Kayutanam merupakan satu usaha untuk menanamkan nilai-nilai kesusasteraan, nilai-nilai yang mungkin beranjak dari kebebasan berpikir, kebebasan berpendapat yang menurut beberapa peserta, tidak didapat di gedung-gedung kuliah.
Di lapangan luas yang diapit sungai itu mereka mendirikan tenda-tenda dan belajar tentang dua hal: kepenulisan dan keaktoran. Dalam kepenulisan, mereka dibimbing untuk menulis imaginative, menulis kreatif, dan beberapa hal lainnya seperti pengenalan puisi dan drama, kemudian melakonkannya pada sebuah panggung tanah.
Menulis kreatif, menulis imaginative, dimasukkan dalam agenda pelatihan itu sebagai upaya untuk memudahkan peserta untuk menulis. Sebab di gedung kuliah dan kurikulum hanya mengajarkan bagaimana menulis esai dan menulis akademik. Sample Image Beberapa bulan lalu, Diana Frost, seorang dosen yang menetap di Indonesia sejak tahun 70-an berasal dari Scotland pernah terkejut mendengar tidak adanya mata kuliah kepenulisan kreatif di Sastra Inggris UNAND, “Saya merasa aneh dengan pendidikan kalian, apa sebenarnya yang kalian pelajari sebetulnya…” Betapa sebuah jurusan sastra yang belum bisa menghargai imajinasi.